Minggu, 12 September 2010

Tujuh Diri

Pada waktu paling hening di malam hari,saat aku berbaring tidur ayam-ayam,tujuh diriku duduk bersama dan bercakap-cakap lirih :

Diri Pertama : Di sini,di tubuh orang gila ini,aku sudah mendekam bertahun-tahun,tanpa melakukan apa-apa selain memperbarui rasa sakitnya di siang hari dan mengulang penderitaannya di waktu malam.aku sudah tak tahan lagi,dan sekarang aku berontak.

Diri Kedua : Nasibmu jauh lebih baik dari nasibku,Kawan,sebab aku harus membuat gembira si gila ini.Aku membuatnya tertawa dan menyanyi di saat-saat ia bahagia,dan dengan kaki riang,aku harus membuat pikiran-pikirannya menari.Posisi melelahkan ini yang membuatku ingin berontak.

Diri Ketiga : Dan bagaimana dengan aku,si penunggang cinta,si pembawa nyala nafsu dan hasrat berkobar?Aku,diri yang tersiksa oleh cinta,akan membebaskan dari si gila ini.

Diri Keempat : Diantara kalian semua, akulah yang paling malang,karena tidak ada yang kulakukan selain mengurusi kebencian yang menjijikan dan kedengkian yang mengerikan.Aku,diri yang bagai prahara,makhluk yang lahir di ceruk hitam Neraka,akan menolak melayani si gila ini.

Diri Kelima : Tidak,akulah,si perenung,si pelamun,si penanggung haus dan lapar,diri yang dikutuk agar terus mengembara demi menggeluti segala yang tak dikenal dan segala apa yang belum ada;akulah,dan bukan kalian,yang akan berontak.

Diri Keenam : Dan aku,si pekerja,buruh malang,dengan tangan-tangan sabar dan mata yang rindu,aku merias hari-hari menjadi citra;aku memberi bentuk baru dan kekekalan kepada segala unsur yang tak punya bentuk.Akulah,si penyendiri,yang akan berontak kepada orang gila yang selalu gelisah ini.

Diri Ketujuh : Betapa anehnya mendengar kalian semua ingin berontak,sebab masing-masing dari kalian hanya menjalani takdir yang sudah ditetapkan. Ah ! Seandainya aku bisa menjadi salah satu dari kalian,sesosok diri dengan jalan hidup yang sudah ditentukan!Tetapi aku tidak seperti itu,aku hanyalah diri tak berguna,makhluk yang cuma duduk diam,melongo di manapun dan kapan pun,sementara kalian sibuk membangun kehidupan.Aku ataukah kalian yang seharusnya memberontak?

Ketika diri Ketujuh berkata demikian,enam diri lannya menatap iba padnya,tetapi tidak berkata apa-apa lagi dan saat malam makin larut satu demi satu tidur berselimutkan ketaatan baru yang membahagiakan.

Namun,diri ketujuh tetap terjada di tempatnya,mengamati dan merenungi kehampaan,yang adadi balik segala hal.

0 komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkanlah sedikit komentar..karena akan sangat berkesan bagi saya,

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...