Sabtu, 25 September 2010

Bung Hatta dan Kisah Sepatu Bally



















 PADA tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut. Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi.... Yang sangat mengharukan dari cerita ini... Guntingan iklan sepatu Bally itu masih tersimpan di buku harian Beliau, yang di temukan oleh anaknya. Dan beberapa jumlah uang yang sangat sedikit yang bisa Beliau kumpulkan. Hingga akhir hayatnya, Bung Hatta memang tidak pernah mampu untuk membeli sepatu tersebut..... Kisah ini menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta. “Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri,” kata AdiSasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini, dengan dana bantuan presiden, dana Badan Urusan Logistik, dan lain-lain. Bung Hatta meninggalkan teladan besar... Yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Hal ini telah Beliau jalankan dalam kehidupannya sehari-hari. Bahkan keinginan Beliau ini tak pernah di ungkapkan dan diketahui oleh keluarganya, jika saja guntingan iklan tersebut tidak ditemukan oleh anaknya di dalam buku harian Beliau, setelah beberapa hari Beliau wafat.

3 komentar:

adedosol mengatakan...

Patut dijadikan contoh teladan, tdk sperti pejabat sekarang uang rakyat jg disikat untuk kepentingan pribadi.

jaringan lokal mengatakan...

Sungguh kehidupan yang sederhana, berusaha menabung dulu sebelum bs membeli barang yg diinginkan, kalau skrg bnyk maunya instan, sperti motor nyicil,rumat kredit sampai panci pun dikridit alias ngutang

admin mengatakan...

ironis memang,mungkin kesadaran diri dari pejabat seseorang masih kurang

setuju,tidak saya pungkiri..kadang untuk hal itu pun saya lakukan,nyicil,kredit,sampai berhutang

Poskan Komentar

Tinggalkanlah sedikit komentar..karena akan sangat berkesan bagi saya,

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...