Jumat, 05 November 2010

Abdullah bin Abbas

….ilmu kalian tidak akan memberi manfaat sedikitpun kecuali diamalkan dengan baik.”

Lahir di Sya’b tiga tahun sebelum peristiwa hijrah (Hijriah) pada waktu umat Islam dikepung oleh kaum kafir. Nama lengkapnya Abdullah bin al-Abbas bin Abdul Mutholib al-Quraisyi al-Hasyimi. Biasanya dipanggil Abul ‘Abbas dan digelari “habrul ummah”(ilmuan Umat) dan “Turjuman al-Qur’an”(Penerjemah al-Qur’an). Ibunya bernama Ummul Fadhil Lubabah binti al-Harits al-Hilaliyah. Beliau adalah anak dari paman Rasulullah. Badannya tidak terlalu tinggi, wajahnya ganteng dan kulitnya putih. Kalau bicara sopan dan baik tutur katanya.

Sebelum kelahirannya, ibunya pernah berjumpa dengan Rasulullah. Rasulullah mengkabarkan bahwa kelak akan lahir seorang anak laki-laki. Rasulullah pun meminta kepada ibunya agar setelah lahir supaya dibawa ke tempatnya. Setelah lahir, ibunya membawanya ke Rasulullah. Rasulullah memberi nama anaknya, Abdullah.
Ketika Rasulullah wafat, umur beliau baru tahun. Pendapat lain mengatakan umur beliau pawa waktu Rasulullah wafat lima belas tahun. Dari Ibn Abbas diceritakan bahwa Rasulullah wafat ketika saya berumur lima belas tahun.”(lihat Sair ‘alam an-nubala). Jadi kurang lebih beliau berjumpa Rasulullah hanya tiga puluh bulan saja.

Beliau adalah orang alim. Dalam usaha mencari ilmu dan mempelajari ajaran Islam, beliau adalah tauladan dan contoh bagi generasi kita. Beliau sangat serius dan tidak mengenal lelah. Sebab ilmu tidak didapat dengan -, tapi harus digali secara serius. Di kalangan para beliau dikenal orang yang paling banyak berfatwa dan berijtihad. Di samping itu beliau juga yang paling banyak meriwayatkan hadits Rasulullah bersama Abu Hurairah, Ibn Umar, Jabir, Anas dan ‘Aisyah. Dalam sejarah Islam, beliau yang dikenal dengan sebutan ‘abadalah al-arba’ah’ yaitu empat yang bernama Abdullah. Tiga yang lainnya adalah Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair dan .

Mengenai pribadinya, Ibn Mas’ud berkata; “Penerjemah al-Qur’an yang baik adalah Ibn ‘Abbas.” Mujahid berkata; “Ibn ‘Abbas jika mentafsiri sesuatu, saya melihat cahaya darinya.” ‘Atho berkata; “Saya tidak melihat bulan purnama pada malam ke empat belas melainkan saya teringat dengan wajah Ibn ‘Abbas.” Pujian lain datang dari Amru bin Dinar, “Saya tidak pernah melihat suatu majlis yang menghimpun semua kebaikan kecuali majlisnya Ibn Abbas; mengenai halal dan haram, bahasa Arab, ilmu nasab dan syair.”
Suatu ketika Rasulullah mendo’akan beliau, “Ya Allah berilah dia kepahaman dalam agama, dan ajarkan dia (ilmu) takwil.” Di kesempatan lain Rasulullah berdo’a, “Ya Allah, ajarkan dia ilmu hikmah,”

Karena keluasan ilmu dan pengetahuannya tentang ajaran Islam, Umar tidak segan-segan suatu perkara yang mungkin tidak diketahui. Bahkan tidak malu-malu, beliau didudukkan bersama pembesar umat Islam dan syeikh-syeikh Badr. Beliau gemar berkelana ke pelbagai tempat untuk menimba ilmu. Beliau pernah membaca qosidah (rangkuman syair) yang terdiri dari 80 bait dan mampu menghafalnya.

Selama hidupnya beliau bersama Ali pernah ikut menyaksikan peristiwa Jamal dan Shiffin. Pada waktu Ali menjabat kholifah keempat, beliau ditunjuk untuk menjadi wali di Basrah. Tapi akhirnya jabatan wali itu ditinggalkan sebelum Ali ra terbunuh. Dan kembali lagi ke Hijaz. Ketika terjadi pertikaian antara Abdullah bin az-Zubair dan orang-orang Umayah beliau tidak ikut campur.

Setelah tidak menjabat wali di Basrah, beliau menetap di Thoif. Di sanalah beliau mengamalkan ilmunya dan mengajarkan pada orang lain. Majlis yang diadakan beliau banyak diminati orang. Kebanyakan kitab-kitab tafsir al-Qur’an yang ada banyak menisbatkan kepada beliau. Sebagian ahli-ahli bidang ini mengumpulkan takwilnya.

Meskipun tidak lama hidup berdamping bersama Rasulullah, tapi beliau sangat rajin menimba ilmu langsung dari Rasulullah. Sehingga banyak sekali hadits-hadits yang diriwayatkannya. Kurang lebih ada 1660 hadits yang beliau riwayatkan.

Diantara riwayat haditsnya, Rasulullah bersabda “Dua kenikmatan yang melalaikan kebanyakan manusia; kesehatan dan waktu luang.”

Pada tahun 68 Hijriah beliau meninggal dunia. bin al-Hanifah ikut sholat jenazahnya. Apa kata al-Hanafiyah mengenai kematiannya pada waktu mau dikubur, “Pada hari ini seorang ahli agama telah meninggal dunia.” Diatas bumi Thoif itulah tempat jasad beliau dikubur. Putra-putra beliau; al-‘Abbas, Ali as-Sajjad, al-Fadhl, , Abdullah, Lubabah dan Asma.

0 komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkanlah sedikit komentar..karena akan sangat berkesan bagi saya,

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...